Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Sebuah Renungan Untuk Menggapai Kemenangan.

1 SYAWAL 1430 H

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah, yang telah mensyariatkan shoum kepada para hamba-hambaNya, agar jiwa mereka suci dari dosa. Yang telah memanjangkan umur sehingga kita dapat menuntaskan ibadah shoum di bulan Romadhon tahun ini. Kita berdoa kepada Allah, agar berkenan menerima semua amal ibadah kita selama bulan Romadhon.

Sholawat teriring salam semoga selalu tercurahkan kepada sosok yang sangat dan selalu kita cintai, Nabi Muhammad beserta kelurga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Saya berwasiat kepada saya pribadi dan hadirin sekalian marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah. Dan marilah kita jadikan Romadhon yang baru saja berlalu sebagai bulan latihan. Untuk menyongsong waktu-waktu berikutnya dengan kualitas dan kuantitas ibadah yang lebih baik.

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Hari ini kita merayakan hari kemenangan dan kebahagiaan setelah melewati masa-masa ibadah Romadhon. Maka hebatkanlah kemenangan dan kebahagiaan ini dengan menjadikan moment Iedul Fitri sebagai starting up untuk meneruskan segala aktifitas ibadah yang telah kita biasakan di bulan Romadhon.

Sholat 5 waktu yang kemarin kita terbiasa melaksanakannya dengan berjamaah di masjid, maka kita teruskan untuk tetap melaksanakannya setelah Romadhon.

Shoum, yang sebulan penuh kita lalui dapat kita teruskan dengan shoum-shoum sunnah. Di antaranya adalah shoum Syawal. Rasulullah bersabda :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

"Barangsiapa yang melaksakan shoum di bulan Romadhon

Kemudian melanjutkan dengan shoum enam hari di bulan Syawal

maka dia seperti melaksanakan shoum selama satu tahun."

Juga berbagai macam ibadah lainnya, seperti shodaqoh, tilawatil quran, dzikir, saling memafkan, dan lain sebagainya. Berikanlah kemuliaan pada diri kita untuk melanjutkan segala aktifitas tersebut di bulan-bulan setelah Romadhon.

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Berbicara tentang kemenangan, tentunya mengingatkan kita kembali pada kejayaan Islam di masa-masa keemasannya. Dimana, Islam dan kaum muslimin begitu berjaya di segala bidang. Politik, ekonomi, budaya ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Cukuplah ilmu pengetahuan yang berkembang pesat menjadi bukti nyata akan kehebatan Islam. Al Quran, yang menjadi sumber segala disiplin ilmu membuat peradaban kaum muslimin jauh lebih unggul dibandingkan dunia barat selama lebih dari 1200 tahun.

Simaklah ayat berikut ini :

$oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ

"dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup".

QS. Al Anbiya : 30

Sekilas, mungkin kita bingung. Bukankah kebutuhan pokok semua makhluk yang hidup di bumi adalah udara, lalu kenapa dikatakan air.

Jawabannya dapat kita temukan ketika melihat kaum ibu memasak air di dapur. Reaksi kimia air atau H2O jika dididihkan akan mengasilkan uap O2 atau udara. Nah udara itulah yang menyebar untuk dikonsumsi makhluk hidup. Tentunya kalau jumlah air yang kita hitung adalah air laut yang dididihkan matahari. Bukan hanya yang dimasak kaum ibu tadi.

Masih ingat dengan pesawat Apolo11 dan Chalenger buatan amerika yang pernah menembus langit ? atau pesawat Lunik dan Soyuz milik Uni Soviet? Begitu besar perhatian dan keinginan para ilmuwan sehingga usaha mereka berhasil untuk mengimbangi gaya gravitasi bumi. Dan ternyata kekuatan nukirlah yang berperan. Besarnya kekuatan nuklir yang dibutuhkan melebihi daya ledak nuklir bom atom yang dijatuhkan di Hirosyma dan Nagasaki. Ledakan nuklir tersebut dilakukan berkali-kali untuk dapat mendorong pesawat super canggih tersebut menuju ke ruang angkasa.

Dan subhanallah, konsep yang dipakai para ilmuwan setelah melakukan penelitian sekian lamanya ternyata sudah dibicarakan AL Quran berabad-abad sebelum para ilmuwan itu lahir.

uŽ|³÷èyJ»tƒ Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ÈbÎ) öNçF÷èsÜtGó$# br& (#räàÿZs? ô`ÏB Í$sÜø%r& ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur (#räàÿR$$sù 4 Ÿw šcräàÿZs? žwÎ) 9`»sÜù=Ý¡Î0 ÇÌÌÈ

Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan yang besar. (Ar-Rahman 33).

Masih banyak lagi hasil penelitian ilmu pengetahuan yang ternyata, Islam, jauh sebelum para pakar barat menemukan penemuan-penemuan hebat mereka, Islam sudah lebih dulu mengenal. Dan tidak jarang para pakar barat tadi sesungguhnya hanya mencontek atau merujuk kepada ilmuwan Islam. Seperti

1. Al-Khowarizmi atau disebut Alqoritma, matematikawan ulung pertama di dunia

2. Ibnu Sina atau Avicenna

3. Ibnu Rusyd

4. Jabir ibnu Hayyan atau Geber

5. Abu Qosim atau Abucasisi

6. Dll

Bahkan dalam ilmu politik dan pemerintahan sekalipun, kalangan barat pun harus mengekor konsep kaum muslimin.

Bukankah konsep pemerintahan yang dianut Barat juga Indonesia selama ini adalah rumusan yang dibuat Montesqui (1755)?, bahwa rumusan pemerintahan yang baik adalah yang terdiri dari :

1. Legislatif (mempunyai kekuasaan membuat undang-undang)

2. Eksekutif (Mempunyai kekuasaan melaksanakan undang-undang)

3. Yudikatfi( Mempunyai kekuasaan pengadilan )

Atau mungkin rumusan pemikir barat lain yang berbeda dari sisi linguistik, seperti John Locke (1704), Van Vollen Hoven dan Lemaire. Dengan konsepnya, legislatif, eksekutif, federatif, regeling, bestur dsb.

Dan sekali lagi, subhanallah, ternyata semua konsep pemerintahan buatan mereka seolah-olah konsep yang basi. Karena Islam, berabad-abad sebelumnya sudah membuat rumusan pemerintahan yang begitu hebat . adapun konsep barat tadi seakan hanya mengikuti.

Sejak para khulafaur-rasyidun menggantikan Rasulullah, mereka membuat konsep pemisahan tugas pemerintahan. Mereka menyebutnya dengan :

1. Ulil Amri (Pelaksana Syariah atau undang-undang)

2. Majelis Syura (Dewan permusyawaratan)

3. Ahlul Halli wal Aqdi (Dewan Pertimbangan)

4. Qadhi Syuraih (Dewan peradilan)

Hanyasaja perbedaannya, Undang-undang yang diterapkan pemerintahan Islam adalah udang-undang yang tiada duanya, yaitu undang-undang buatan Allah, sedangkan undang-undang yang dibuat barat yang juga diterapkan di Negeri yang kita cintai ini adalah Undang-undang Made ini Manusia. Dan sungguh, buatan manusia tentu tidak akan bisa dibandingkan dan disandingkan dengan karya Allah.

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Masih banyak lagi bukti yang menunjukkan bahwa Islam memang betul-betul jaya. kita belum membahas bagaimana kekuasaan kaum muslimiin dapat mencapai sepertiga dunia. Melebihi kekuasaan Imperium kekaisaran Romawi dan Persia yang begitu melegenda. Dan dalam waktu yang relatif singkat, Islam dan kaum muslimin dapat meruntuhkan dua imperium yang super power tersebut.

Dari segi ekonomi, sejarah mencatat bahwa romawi dan eropa bahkan Rusia pun harus membayar pajak ke pemerintahan Islam. Tentu dikarenakan ketundukkan mereka.

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Selanjutnya, tidakkah timbul sifat kritis dalam diri kita untuk mencari tahu, mengapa kejayaan yang sebegitu hebatnya, saat ini seolah-olah hanya sebuah dongeng atau cerita khayalan belaka. Karena melihat realita yang ada jauh dari yang diceritakan sejarah.

Sejatinya, kehidupan kaum muslimin saat ini secara global internasional sudah sangat memprihatinkan. Penghinaan, penjajahan, perampasan bahkan pembantaian terhadap kaum muslimin dilakukan di mana-mana. Di Palestina, Irak, Afganistan, Checnya, Thailand, Kashmir. Dengan dalih pemberantasan terorisme, mereka membantai sipil-sipil muslim yang tidak mengerti apa-apa. Dan hampir semua operasi yang dilaksanakan untuk membombardir kelompok yang mereka buru, ternyata selalu salah sasaran. Kabar buruk tentang kesusahan saudara-saudara kita tidak mungkin dapat kita terima dengan valid. Karena berita yang kita terima dari hampir semua media selain internet sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang ada.

Belum lagi penghinaan terhadap Rasulullah dan Al Quran, dengan beredarnya gambar-gambar atau klip-klip yang begitu menghinakan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? apa yang bisa kita perbuat? Kita di Negeri yang relatif damai ini hanya bisa membantu saudara-saudara kita dengan cara-cara kurang efektif, walaupun tetap harus dilakukan. Bantuan kemanusian dan doa saja yang mungkin bisa kita upayakan, itupun kalau semua peduli dan memperhatikan.

Tidak sadarkah kita, bahwa posisi kita saat ini sudah sama, mirip dan persis seperti janji Rasulullah.

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ

Hampir-hampir sekian banyak komunitas mengerumuni kalian layaknya orang-orang yang berkumpul mengurumuni hidangan di meja makan.(artinya siap memangsa dan menghabisi). Seseorang bertanya : apakah jumlah kita pada saat kejadian itu sedikit wahai Rasulullah? Beliau menjawab, (tidak) bahkan ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi laksana buih di lautan (terombang-ambing).

Mengapa ? Rasulullah menlanjutkan seraya mewanti-wanti

َلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ

Allah akan mencabut dari dada musuh kalian rasa getar (takut) terhadap kalian. Dan Allah mencampakkan ke dalam hati kalian penyakit Wahn.

Dan apakah Wahn yang menjadi biang kemunduran Islam itu ?

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Cinta dunia dan takut mati

I. Cinta dunia

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Salah persepsi, itulah kalimat pertama yang mungkin patut diucapkan. Melihat fenomena phobia yang ada di masyarakat, ketika mendengar nasihat untuk tidak cinta dunia, atau ada kata lain yang tak kalah membuat sebagian kita terkesan bosan medengarnya. Yaitu zuhud terhadap dunia

Tentunya suatu kesalahan jika yang dipahami bahwa Islam adalah dien yang hanya mengajarkan penganutnya untuk tidak mencari kebahagiaan atau bekal di dunia, atau menelantarkan keluarga dengan enggan untuk mencari nafkah, atau bermalas-malasan dari bekerja dengan dalih zuhud dan tawakkal.

Sungguh keliru, karena justru Islam mengajarkan sebaliknya. Rasulullah sangat menyukai laki-laki yang mendapatkan nafkah dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan beliaupun beserta para sahabatnya juga demikian.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya berada di masjid, tidak mau mencari rizki untuk menafkahi dirinya dan keluarganya. Tentunya dengan dalih zuhud dan tawakkal. Maka Sang Imam menjawab, itu adalah perbuatan orang bodoh, karena teladan terbaik dalam masalah zuhud dan tawakkal adalah Rasulullah dan para sahabat. Dan mereka adalah para pekerja keras. Ada yang berdagang, bertani, berkebun, beternak dsb.

Di samping itu, para Nabi dan Rasul pun juga bekerja untuk menafkahi mereka dan keluarganya. Nabi Idris adalah seorang penjahit, Nabi Daud seorang pandai besi, Nabi Ibrahim peternak, Nabi Zakaria berkebun sedangkan Nabi Muhammad, selain pernah menggembala domba, beliau juga berdagang dan memerah susu.

Maka salah persepsi jika dikatakan Islam hanyalah agama yang menyuruh untuk mengurusi akhirat saja.

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Yang dipermasalahkan adalah, kegandrungan dalam mengejar dunia yang menyebabkan kerakusan dan ketamakan. Atau over act ketika memburu harta dan jabatan. Karena sikap berlebihan inilah yang akan menyebabkan berbagai macam kesalahan dan kerusakan.

Indikasinya adalah, penghalalan segala cara untuk mengejar yang dicita. Korupsi, suap, jual beli riba, tipu menipu, judi, mengurangi timbangan, menjual atau memproduksi yang dlarang, bahkan kemusyrikan sekalipun.

Perbuatan yang demikian tentunya dihiasi dengan kata-kata yang indah agar dianggap tidak bermasalah. Suap, kadang diganti dengan istilah uang tips, uang pelicin atau komisi yang diberikan sembunyi-sembunyi. Riba dirubah dengan kata-kata yang terkesan indah dan modern, seperti bunga, administrasi, denda dan lain sebagainya. Judi, ditutupi dengan bahasa kuis. Bisa kuis SMS, kuis telepon atau undian berhadiah. Kemusyrikan, dikaburkan dengan adanya ramalan, penerawangan alam ghoib atau ngalap berkah.

Apakah kita mengetahui bahwa yang demikian adalah permainan dan tipu daya syetan, supaya kita terlena sehingga terjebak dalam kubangan dosa. Dan apakah para pelaku mengira bahwa cara yang demikian dapat mengelabui Allah.

Cinta dunia inilah yang dapat menutupi mata sehingga kita tidak bisa memisahkan yang halal dari hal-hal yang haram. Kesalahan Brainwash membuat mainset sebagian kita hanya menganggap bahwa yang disebut barang haram adalah yang dlarang secara dzatnya saja, seperti bangkai, minuman keras, babi dan lain sebagainya. Padahal yang dilarang juga yang ditinjau secara hissiah, atau cara mencari dan mendapatkannya. Sehalal apaun barang, jika mendapatkannya dengan cara yang diharamkan, maka barang tersebut otomatis juga berstatus haram. Celakanya, jika bercokol dalam tubuh akan mempengaruhi jiwa, sehingga diri jadi malas ibadah, kikir bersedekah bahkan akan menjadi pengahalang doa kita untuk dapat dikabulkan.

Rasulullah pernah menceritakan dalam sebuah haditsnya akan adanya seorang laki-laki yang berjalan di tengah padang pasir dengan pakaian sangat lusuh. Kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ya robbi ya robbi. Tapi ternyata makanan dan minuman yang dikonsumsinya haram, pakaian haram, diberi makanpun dari yang haram, lalu bagaimana doanya dapat dikabulkan ?

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Hal lain yang dipermasalahkan, kegandruangan terhadap dunia, harta, jabatan dan yang semisalnya dapat membuat manusia rela untuk melalaikan dan menyingkirnya tujuan hidupnya yang haqiqi. Yang dalam hal ini semua kita sudah mengerti. Ibadah untuk menggapai kebahagiaan abadi, selama-lamanya serta tiada henti di negeri akhirat.

Pernahkah kita berfikir, jika untuk mendapatkan satu paket kebahagiaan dan kesuksesan didunia saja, dibutukahan usaha dan kesungguhan yang besar, atau ada yang menyebutnya dengan istilah P7 (pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan), maka untuk paket kebahagiaan dan kesuksesan akhirat yang jauh kebih besar tentunya juga dituntut usaha dan kesungguhan yang besar.

Tidak takutkah kita bahwa hubbundunya yang demikian akan menjadi investasi buruk di akhirat kelak.

Jika tidak, silahkan lakukan lakukan yang haram dan tinggalkan tujuan hidup haqiqi agar anda dapat merasakan buah zaqum di neraka, atau minuman hamim, air panas yang mencapai puncak didihnya, atau makanan duri yang begitu menghinakan, atau minuman nanah yang sangat menjijikan. Atau anda ingin dioven di pusat-pusat lembah neraka, Saqor, wail, goyy, yang jika gunung dimasukkan ke dalamnya saja akan meleleh, bagaimana dengan manusia. Atau mungkin ingin merasakan dipanggang api yang panasnya berlipat-lipat, yang ketika kulit sudah hangus, diganti dengan kulit yang baru, kemudian dipanggang lagi, diganti dipanggang dan seterusnya. Gak usah lama-lama, cukup puluhan, ratusan atau ribuan tahun.

Tapi cukuplah. Siapapun yang cerdas dan berakal, meski tidak mau hal yang demikian.

II. Takut Mati

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Selanjutnya adalah karohiyatulmaut yang lebih familier dikenal dengan sebutan takut mati.

Sejatinya, kecerdasan dan keimanan seseorang akan mengajak jiwanya merenung, bahwa karena kematian merupakan suatu kepastian, maka yang dilakukan bukannya lari dan menghindarinya. Tapi menyiapkan perbekalan untuk kehidupan sesudahnya. Plus tanpa menyia-nyiakan waktu dan umur.

Rasulullah bersabda :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang cerdas adalah yang selalu mengintrospeksi dirinya, dan senantiasa berbuat untuk kehidupannya setelah kematian, sedankan orang yang lemah akalnya adalah yang selalu menuruti nafsunya tapi selalu berangan-angan kepada Allah

Seorang motivator ulung, Mario Teguh pernah mengatakan suatu ungkapan yang begitu luar biasa. Bahwa ada orang hidup tapi belum mengenal kehidupan. Mereka adalah yang suka menyia-nyiakan diri dan waktunya dengan perkataan yang sebenarnya hanya ekspresi dari kemalasan,

Saya akan belajar dengan giat, kalau uang saku saya ditambah

Saya akan rajin ke sekolah, kalau sudah dibelikan motor

Saya akan serius bekerja, kalau gaji saya naik tiap bulan

Saya akan sunguh-sungguh berwirausaha tapi nanti kalau sudah ada yang ngasih atau minjankan modal

Saya akan menjadi ibu rumah tangga yang lebih baik, kalau uang belanja dilebihkan.

Bagi saya, ada tambahan. Orang yang betul-betul belum mengerti arti kehidupan adalah orang menyia-nyiakan waktu dan hidup dunianya untuk melalaikan kehidupan akhiratnya, sehingga muncullah ucapan :

Saya akan banyak berinfaq, tapi nanti kalau sudah banyak uang

Saya akan konsentrasi sholat, shoum dan semua ibadah kalau hidup sudah mapan.

Dan yang paling mantep :

Saya akan rajin ibadah, tapi nanti kalau usia saya sudah sekian

Saya akan semangat ke masjid, tapi nanti kalau sudah umur sudah akan finishing.

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Munafiquun : 11)

Bagi yang suka internetan, silahkan kunjungi youtube.com, lalu ketiklah di Search Engine-nya, "Death on the field". Maka akan didapatkan sekian banyak olahragawan muda dan belia yang tewas saat bertanding di tengah lapang. Marc Vivien Foe, Miklos Fehrer, Asy-Syuaibi, Omar Shanoun adalah pemain sepakbola yang tewas memilukan saat bertanding. Dan mereka masih sangat muda dan perkasa.

Konon, bersepeda adalah olahraga yang dapat menyehatkan jantung, tapi tidak bagi Jean Claude Misaac, pembalap sepeda yang meninggal dunia di usia muda karena serangan jantung.

Dan masih banyak lagi, profil-profil manusia yang perkasa, hebat mengagumkan tapi wafat di usia yang sangat dini.

Dan tentunya saya tidak memaparkan demikian kalau bukan untuk menegaskan bahwa, jangan tunggu hidup anda berakhir untuk menyiapkan kebahagiaan akhirat anda.

Hadirin Jamaah 'Iedul Fitri Rohimakumullah

Kalau virus wahn sudah menyebar dan menjangkit di tubuh masyarakat muslim, dan jika dunia saja yang diburu-buru serta kematian sudah tidak disiapkan, maka orang-orang yang sangat membenci Islam, dengan sangat mudah akan mencaplok kehidupan dan kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Karena bagi orang Islam yang sudah tertular penyakit berbahaya ini, jangankan menghidupkan dan menjayakan Islam, kehidupan Islam dalam dirinya saja sudah redup bahkan padam.

Akhirnya, tidak ada kalimat penutup yang lebih layak selain nasihat, marilah muliakan diri dengan meninggalkan segala hal yang hanya akan menyengsarakan hidup, agar kita pantas mendapatkan segala yang pantas untuk kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Di Dunia kita raih kejayaan Islam, di akhirat kita gapai kebahagian abadi nan haqiqi.

Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kasih dan sayangnya kepada kita, sehingga hidayah dapat hinggap dalam hati kita, yang dengannya kita berharap dapat menapaki jalan yang lurus, dapat terhindar dari segala tipu daya syetan, baik syetan jin dan manusia. Dan akhirnya kita limpahkan harapan kita agar Allah berkenan memberikan konsistensi dan ke-istiqomahan, sehingga kita dapat menemui Allah dalam keadaan yang terbaik, yaitu husnul khotimah.

Demikian khutbah yang bisa saya sampaikan, adanya kesalahan dan kekhilafan tentunya suatu yang pasti, karena saya hanyalah manusia biasa. Karena itu, terbukanya pintu maaf dari hadirin sekalian adalah harapan besar yang sangat saya utamakan.

MUSIBAH SOMBONG

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dari Nabi bersabda, "tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi kesombongan." Seseorang berkata, "Sesungguhnya ada orang yang suka jika pakaiannya bagus dan sendalnya bagus. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah itu indah, mencintai keindahan, sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim)

Imam Al Khottobi menjelask
an bahwa kesombongan yang menyebabkan pelakunya terhalang untuk masuk surga dengan dua penjelasan. Jika kesombongan dilakukan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, maka pelakunya tidak akan masuk surga jika dia mati di atas kesombongannya itu. Penjelasan yang kedua menerangkan bahwa seseorang baru bisa masuk surga jika dia dibersihkan dulu dari dosa sombong (mungkin yang dimaksud adalah kesombongan terhadap manusia).

Sombong dalam menentang kebenaran dapat menghilangkan keimanan dari pelakunya. Tentunya termasuk di dalamnya menolak perintah dan larangan Allah. Syaikh Abdul Majid Az Zindani ketika menjelaskan pembagian kekufuran, maka beliau menyebutkan salah satunya adalah kekufuran akibat keengganan dan kesombongan. Beliau memberikan contoh kufurnya Iblis la'natullah. Yang awalnya selalu beriman kepada Allah dan tidak pernah menolak perintahnya, akan tetapi karena keenggan dan kesombongannya terhadap satu perintah saja, yaitu sujud kepada Adam, menyebabkan dia masuk ke dalam kekafiran yang mengekalkannya di neraka.

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat, "Sujudlah (hormati dan muliakan) kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabbur (sombong), dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al Baqoroh : 34)

Hal serupa juga dapat terjadi pada seorang muslim, yang dengan alasan sedemikian rupa, menolak untuk melaksanakan perintah Allah. Padahal satu saja yang tidak dia kerjakan, kalau didasari dengan keengganan atau penolakan terhadap perintah tersebut, masuklah dia ke dalam kufur iba' wa istikbar.

Sungguh telah terjadi kerancuan persepsi di benak kebanyakan kaum muslimin akan sifat sombong ini. Di antara mereka ada yang membatasi kesombongan dengan perilaku seseorang yang selalu berbicara tinggi, belagu, menganggap dirinya paling hebat. Maka jika seseorang sudah terlepas dari hal tersebut terhindarlah dia dari sebutan sombong, tanpa melihat perilakunya yang tidak pernah melaksanakan kewajiban dan bahkan selalu melanggar larangan. Sehingga seorang artis atau selebriti pun yang selalu menentang kebenaran dengan menolak kewajiban menutup aurat, senantiasa melanggar yang haram dengan mengumbar aurat, memperagakan adegan mesum, mencontohkan pacaran dan sex bebas dsb, bisa terhindar dari tuduhan sombong manakala dia tidak berbicara tinggi, belagu atau menganggap dirinya paling hebat. Sungguh satu kekeliruan.

Beliau, syaikh Abdul Majid Az-Zindani juga menambahkan, termasuk kekufuran karena enggan dan sombong, manakala ada sekelompok kaum muslimin, baik di rumah tanggga, masyarakat, ataupun negara, yang sudah mengetahui dan meyakini bahwa Islam dan seluruh ajarannya adalah haq (benar), kemudian mengetahui bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, Dia yang paling tahu bagaimana manusia diatur di dunia, akan tetapi kelompok muslim tersebut malah meninggalkan ajaran (syariat atau hukum) Islam atau sebagiannya, dan mengambil ajaran agama lain untuk mereka terapkan hukumnya untuk kehidupan masyarakatnya.

Kalau sudah sedemikian, maka pelakunya baik individu maupun kelompok, tidak akan selamat dari adzab Allah di dunia, terlebih di akhirat. Akan tetapi Subhanallah, terkadang kesombongan ditambah kesombongan. Sudah mendapat peringatan berkali-kali dengan adanya gempa bumi, banjir, longsor, tsunami dsb, bukannya sadar dan kembali ke jalan Allah, malah menambahkan kesombongannya menolak syariat dengan kesombongan menantang Allah. Dengan perkataan, 'semahal apapun alat pendeteksi tsunami akan kita beli, sedasyhat apapun gunung merapi akan kita hadapi dengan penanggulangan yang sudah terkodinir dengan baik'.

Masih ingatkah kesombongan kita ketika menghadapi gunung merapi yang siap memuntahkan isinya, antisipasi dengan segala cara sudah kita laksanakan, tapi bukan meletusnya gunung yang terjadi, tapi justru gempa bumi dasyhat diiringi tsunami yang menghancurkan kita.

Harus dan patut kita sadari, bahwa setiap musibah yang terjadi bukanlah sebuah bencana alam semata, tapi merupakan peringatan, ancaman atau bahkan adzab dari Allah atas penolakan terhadap perintah-perintah-Nya. Jika ada yang meragukan hal ini dengan perkataan bahwa di negara luar yang secara nyata menentang Allah dengan beragama lain tidak mendapat musibah dan adzab, maka bisa kita jawab, bahkan yang terjadi di luar sana jauh lebih mengerikan, tornado, banjir, gempa bumi jauh lebih dasyhat, akan tetapi mereka (orang-orang kafir) segera untuk menyembunyikan hal itu dan berusaha agar beritanya tidak tersebar.

Maka sadarilah, bahwa tidak ada upaya yang lebih baik untuk menghindari adzab Allah selain kembali ke jalanNya, melakasanakan seluruh perintah dan syari'at-Nya, serta meninggalkan dan mencegah seluruh yang dilarang-Nya.

Kesombongan lainnya adalah غمط الناس merendahkan orang lain, yang dapat menghalangi pelakunya untuk masuk surga disebabkan pembersihan di neraka yang harus dia terima terlebih dahulu. Kesulitan untuk menghindarinya tidak jauh berbeda dengan jenis kesombongan yang pertama. Biasanya terjadi secara individual, yang siapa saja bisa terkena, mulai rakyat jelata sampai penguasa, orang miskin sampai para borjuis, orang bodoh sampai intelektual, bahkan mungkin mereka yang terlihat tidak pantas dan tidak mungkin melakukannya juga dapat terjangkit penyakit kesombongan ini, seperti para ahli ilmu, ustadz, kyai atau ulama.

Terkadang godaan syetan untuk berlaku demikian amatlah halus sekali, sehingga banyak tak sadar kalau ia sedang merendahkan orang lain. Seperti perkataan, "kalau infaq segitu sih, saya bisa lebih banyak dari dia", ”Kalau cuma mengajar ilmu ini, saya punya metode yang lebih baik".

Atau paling tidak ujub, dengan membanggakan apa yang ia mampui atau miliki. Perkataan, "saya ini", "dulu saya", "anak saya", "bapak saya",

Lawan dari kesombongan ini adalah tawadlu'. Merendahkan hati tanpa menghinakan diri.

"Allah mencintai mereka (wali Allah) dan mereka cinta kepada-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras dan tegas kepada orang kafir." (Al Maidah : 54)

Pelaku sifat mulia ini bisa terlihat dalam kehidupannya sehari-hari. Teladannya pun cukup banyak. Lihat saja Umar bin Abdul Aziz, yang pernah didatangi tamu yang berstatus rakyat atau bawahannya. Tiba-tiba lampu mati dan saat itu beliau sedang menulis. Sang tamupun berkata, "bolehkah saya memperbaiki lampu ?", Umar pun menjawab,"tidaklah ada kemuliaan pada seseorang jika dia menjadikan tamunya sebagai pembantu". "Kalau begitu saya akan membangunkan anak-anak", Umar pun menjawab, "dia baru saja tidur, jangan dibangunkan", maka Umar berdiri kemudian untuk memperbaiki lampu tadi. Dan ketika si tamu berkata, "anda mengerjakan hal itu sendiri wahai Amirul Mukminin?, beliau pun menjawab, "aku lakukan itu aku tetap Umar, jika tak kulakukan akupun tetap Umar, tidak berkurang dariku sedikitpun, sebaik-baik orang adalah yang bertawadlu' di sisi Allah."

Maka tinggalkanlah segala bentuk kesombongan. Yang terhadap kebenaran bisa kita hindari dengan menerima dan melaksanakan kebenaran tersebut, adapun kesombongan terhadap orang lain dapat kita jauhi dengan selalu bertawadlu' atau merendah hati. Wallahulmusta'an. (El Arise Mahmud)

TAWAKKAL = MALAS-MALASAN ?

"Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Al-Maidah: 23)


"Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (At-Thalaq: 3)


Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.


لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا


"Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".


Tawakkal, suatu kata yang walaupun sudah tidak asing di telinga kita, ternyata masih banyak yang keliru mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Tafrith dan Ifroth, adalah kesalahan yang sering terjadi dalam menyikapi berbagai masalah yeng berhubungan dengan Dien, dan tak terkecuali masalah tawakkal.


I. TAFRITH

`Ada yang bersikap tafrith, sehingga meremehkan tawakkal kepada Allah yang Maha Kuasa. Pelakunya hanya mengandalkan kecerdasan dan kemampuan yang dia miliki. Baginya, dua hal tersebutlah yang menjadi penopang kesuksesan dalam segala hal. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa yang menentukan segala sesuatu adalah Allah Yang tentunya kekuasaan dan kemampuanNya tidak ada bandingannya. Dan kalaupun ia meyakini, maka cuma sekedar keyakinan yang tidak pernah terpikir untuk diamalkan.


Sikap seperti ini akan melahirkan kesombongan. Bagi yang biasa menampakkannya, maka akan sombong dan angkuh sejadi-jadinya. Adapun yang lebih bersifat pendiam, maka tafrith dalam tawakkal akan menyimpan kesombongan dalam hati dan diri. Dan bukankah tidak akan masuk surga seseorang yang masih menyimpan rasa sombong dalam hatinya walau hanya sebesar dzarrah ?.


Terlebih, dari sifat sombong biasanya akan lahir akhlaq buruk lainnya. Paling tidak, bakhil, kikir, semena-mena, dan tabdzir yang akan menjadi sahabat sombong karena meremehkan tawakkal. Dan bagi yang belum berhasil meraih cita-cita duniawi maka akan timbul dalam hatinya rasa cemas, pesimis dan kekhawatiran yang berlebihan.


Lihatlah Rasulullah dan para sahabatnya. Generasi pertama Islam yang sepatutnya dijadikan teladan untuk meningkatkan kualitas keimanan. Sifat tawakkal yang mereka miliki menjauhkan generasi terbaik itu dari sikap sombong, kikir, bakhil,cemas dan takut dalam mengarungi kehidupan duniawi mereka.


Rasulullah, sang teladan terbaik pernah bersabda :

لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا يَسُرُّنِي أَنْ لَا يَمُرَّ عَلَيَّ ثَلَاثٌ وَعِنْدِي مِنْهُ شَيْءٌ إِلَّا شَيْءٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ

"Seaindainya aku memiliki emas sebanyak gunung Uhud, aku sangat bergembira kalau tidak sampai berlalu tiga hari lamanya hingga tidak ada sedikitpun yang tersisa dari emas itu, kecuali sesuatu yang aku siapkan untuk membayar utang." (HR. Bukhari).


Adapun teladan dari para sahabat, dapat kita ambil dari beberapa kisah mereka. Ketika Abdullah bin Zubair memberikan 180.000 dirham (uang perak) kepada Ummul Mukminin 'Aisyah, maka ia pun membagi-bagikannya pada yang membutuhkan. Sampai sore hari, tak satu dirham pun yang tersisa.


Umar bin Khottob pernah menyuruh seorang pembantunya untuk memberikan kantong uang yang telah diisi 400 dinar (uang emas) kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Dan menyuruhnya untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan Abu Ubaidah. Maka, setelah si pembantu menyerahkan amanah dari Umar, ia pun menyaksikan Abu Ubaidah, setelah mendoakan Umar dengan kebaikan, beliau membagi-bagikan uang tersebut hingga habis dalam sekejap.


Pembantu Umar tadi lalu pulang dan kemudian menceritakkan yang baru saja dia saksikan. Lalu Umar memerintahkannya hal sama, dan kali ditujukan kepada Mua'dz bin Jabal. Dan Mu'adz pun melakukan hal sama dengan Abu Ubaidah. Hanyasaja Mu'adz menyisakan dua keping untuk diberikan kepada istrinya, karena mereka memang termasuk keluarga miskin.


II. IFROTH

Lainnya halnya dengan ifroth, pemeluk sifat ini justru berlebih-lebihan dalam tawakkal. Penyakit ifroth ini banyak melahirkan sikap malas, berpangkutangan serta mengenyampingkan ikhtiar. Hal ini tentunya bertentangan dengan hakekat tawakkal. Karena, yang diperintahkan bukan hanya berserah diri kepada Allah serta tidak takut menghadapi masa depan, tapi juga diharuskan berusaha, berikhtiar dan memilih kehidupan yang terbaik. Bahkan, berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan harta dunia kemudian digunakan untuk kepentingan akhirat adalah pilihan yang sangat mulia.


Di samping itu, usaha untuk menegakkan Islam tidak mungkin terwujud tanpa ada unsur para Aghniya, ditambah ulama dan mujahid. Kerena darimana biaya akan didapatkan untuk melindungi kaum muslimin kalau bukan dari para aghniya yang mendermakan hartanya ? bagaimana dakwah Islam bisa tersebar, jika tidak ada bantuan dari para aghniya ?


Abdullah ibnu mubaarok adalah seorang ulama yang sekaligus mujahid dan aghniya. Mengenai dirinya yang saudagar dan kaya raya ia berkata, "seandainya jika bukan untuk membiayai kepentingan dakwah, maka perniagaan ini tidak akan dijalankan."


Dan bukankah Rasulullah tidak pernah memerintahkan sahabatnya untuk hidup miskin dan serba kekurangan. Walaupun beliau mencela kekayaan tanpa kesholihan. Ketika ditanya tentang sedekah yang terbaik, maka beliau pun menjawab, "Engkau bersedekah dalam keadaan sehat dan cinta harta, berharap hidup dan takut miskin." (An Nasa'i, dishahihkan Al Albani).


Rasulullah pernah menyimpan persiapan makanan untuk satu tahun ketika mendapatkan fai'. Tentunya ditujukan untuk kebutuhan beliau dan semua istri-istrinya.


Maka beliaupun memperbolehkan menabung untuk keperluan esok hari. Ketika Sa'ad bin Abi Waqqosh sakit parah dan dijenguk Rasulullah, ia mengutarakan bahwa ia memiliki harta yang banyak, sedang ahli warisnya hanya seorang putrinya saja. Sa'ad berkeinginan untuk menginfakkan 2/3 hartanya. Maka Rasulullah melarang. Sa'ad bertanya kembali dengan jumlah 1/2 hartanya, Rasulullah juga melarangnya. Dan ketika Sa'ad bertanya untuk yang sepertiga, beliau pun bersabda, "sepertiga masih banyak. Engkau tinggalkan anakmu dalam keadaan kaya-raya lebih baik daripada meinggalkan mereka dalam keadaan miskin, meminta-minta kepada manusia.


Lalu bagaimana ?

Tentunya mengkorelasikan tawakkal dengan ikhtiar, sebagai upaya untuk menghindari tafrith dan ifroth.


Bersungguh-sungguh dan bekerja keras, serta berserah diri kepada Allah dan menggunakan harta untuk kepentingan Islam yang menjadi kepentingan akhiratnya.


Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, "Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri". Maka beliau berkata, "Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu". Selanjutnya Imam Ahmad menjelaskan, "Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita".


Terlebih, Rasulullah pernah menjelaskan bahwa semua para nabi berprofesi sebagai penggembala kambing. Nabi Daud adalah seorang tukang besi, Nabi Idris adalah tukang jahit, Nabi Ibrahim adalah seorang petani dan Nabi Zakaria adalah tukang kayu.


Terakhir, simaklah kata mutiara Abdullah bin Umar, "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan meninggal esok". Wallahua'lam. (El Arise Mahmud)